Rabu, 30 Januari 2013

Beranda » » Bedah Buku NALAR AYAT-AYAT SEMESTA

Bedah Buku NALAR AYAT-AYAT SEMESTA


Dr. Agus Purwanto
Hari Jumat, 14 September 2012, kemarin saya ditugaskan masjid Salman untuk membedah buku terbaru Dr. Agus Purwanto berjudul Nalar Ayat-ayat Semestaterbitan penerbit Mizan Bandung Agustus 2012. Sebenarnya saya pernah di minta oleh Mizan untuk membuat endorsement bagi buku itu, namun saya tolak, karena kesan saya buku itu hanyalah pengulangan dari bukunya terdahulu Ayat-ayat Semestayang diterbitkan penerbit yang sama pada tahun 2008 .

Nasruddin Tus
Bagi saya kedua buku itu tampaknya setara dengan buku karangan Maurice Bucaille dan Harun Yahya yang melihat kesejajaran antara ayat-ayat kawniyah yang dibaca oleh sains modern dengan ayat-ayat qauliyah dalam kitab suci al-Qur’an al-Karim . .
Dengan buku-buku seperti itu pembaca seolah diajak untuk terpesona bahwa temuan-temuan ilmiah sudah ada di dalam kitab Suci agama Islam. Tentu saja pendekatan sains dan Islam seperti ini, bagi saya, mempunyai kelemahan fundamental yang memalukan umat Islam. Karena temuan-temuan sains itu ditemukan oleh orang-orang non Islam yang biasanya disebut sebagi orang kafir. Sedangkan umat Islam tidak menemukan apa-apa. Sangat menyedihkan. :(
Namun, benarkah begitu? Saya rasa kita tak akan sedih, kalau saja kita melengkapi pendekatan modernis fundamentalis itu dengan pendekatan historis tradisionalis. Dalam pendekatan terakhir ini kita tidak melepaskan sains modern dari sains tradisional. Sains modern bukannya alternatif pengganti dari sains tradisional, tetapi merupakan kelanjutan dari yang disebut belakangan. Misalnya sains tradisional Islam adalah penghubung sains pra-islam dengan sains sekuler Barat yang ada sekarang ini.

Sigmund Freud

Charles Darwin

al-Jahiz

Nicolaus Copernicus

Karl Marx

Ibnu Khaldun

Adam Smith

Imam Al Ghazaly
Sains kealaman modern, berpangkal pada penemuan Nicolas Copernicus mengenai heliosentrisme yang dirumuskan secara matematis oleh Kepler dan diturunkan oleh Newton melalui mekanika dan teori gravitasinya. Tentu saja penemuan Copernicus itu tak kan terjadi kalau saja dia tidak menguunakan dua teorema yang masing-masingnya ditemukan oleh Nasruddin Tusi dan Mu’ayyad al-Din al-Urdi.
Dalam biologi, teori evolusi Charles Darwin adalah penyempurnaan teori evolusi al-Jahiz . Begitu juga dalam sosiologi, analisis komprehensif Karl Marx yang melibatkan faktor-faktor material seperti geografi dan teknologi serta teori Marx tentang nilai kerja telah dirintis oleh Ibnu Khaldun dalam bukunya Muqadimah. Ekonomi pasar bebas yang dirumuskan oleh Adam Smith telah dirumuskan oleh Ibnu Taimiyah . Bahkan konsep id, ego dan superego Sigmund Freud paralel dengan konsep nafs, ‘aql dan qalb dalam teori tasauf Imam al Ghazali .
Lepas dari kekurangan itu, ternyata Dr.Agus Purwanto, dalam buku barunya Nalar Ayat-ayat Semesta bukanlah sekedar pengulangan bukunya pertama sperti kesan pertama saya. Beliau mempunyai satu konsep baru yang tidak dibicarakannya dalam Ayat-ayat Semesta. Konsep itu adalah konsep Sains Islam untuk melengkapi wawasan islamisasi sains dan saintifikasi Islam yang populer dewasa ini. Konsep ini dapat dipahami jika kita memahami kaitan yang erat antara sains dan Islam.

Hubungan Sains dan Islam sangat erat kaitannya. Hubungan Sains selama ini ada dua. Hubungan pertama adalah Islamisasi Sains: Pembebaran ayat-ayat dengan menggunakan sains yang sudah ada, Yang kedua adalah saintifikasi Islam: menjelaskan Islam dengan terminologi sains. Dr. Agus Purwanto sendiri mengajukan hubungan ketiga dalam konsepnya Sains Islam: di mana sains dikonstruksi berdasarkan wahyu Allah.
Dr. Agus Purwanto menjelaskan dalam Nalar Ayat-Ayat Semesta, bahwa perbedaan sains barat dan sains Islam adalah bahwa secara ontologis sains Barat bersifat materialistik, secara epistemologis bersifat rasional, empiris dan obyektif dan secara aksiologis bersifat mencari kepuasan intelektual tanpa batas.
Sebagai alternatif Dr. Agus Purwanto mengajukan sebuah konsep sains Islam yang ontologinya melibatkan zat-zat yang gaib (QS Al-Haqqah [69]: 38-39), epistemologinya melibatkan fu’ad (QS An-Nahl [16]: 78) atau hati yang berzikir melengkapi akal yang berfikir (QS ‘Ali ‘Imran [3]: 191) dan aksiologinya berdasarkan karakter alam yang diciptakan Allah dengan tujuan, tidak sia-sia (QS ‘Ali ‘Imran [3]: 191).
Dengan demikian sebenarnya Dr.Agus Purwanto telah membangun paradigma (filsafat dasar) ontologis, epistemologis dan aksiologis ilmu berdasarkan al-Quran al-Karim, sehingga secara implisit kita bisa melihat adanya hirarki ‘ilm(sains)-hikmat(filsafat)-kitab(Quran) seperti yang diisyaratkan dalam Qur’an itu sendiri (QS, Surat An-Nisa’ [4]:113) .dalam membangun sains Islam.
Saya kira inilah kemajuan Nalar Ayat-ayat Semesta dibandingkan buku Ayat-ayat Semesta. Tujuan dari Nalar Ayat-ayat Semestaadalah mengkonstruksi sains Islam dengan merujuk pada konsep-konsep alam yang dijumpai dalam al-Qur’an al-Karim. Untuk merealisasi cita-cita itu beliau bersama Gus Sholah mendirikan trensains di Jombang yang kurikulumnya menekankan bahasa Arab, Agama, bahasa Inggris, Sains dan interaksi sains agama.